Kepala BNPB Menjelaskan Penanganan Tenda Pengungsian di Aceh Tamiang yang Terhambat Akses
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, memberikan tanggapan terhadap kritik masyarakat terkait keterlambatan distribusi tenda pengungsian di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Ia menegaskan bahwa pengiriman tenda dilakukan segera setelah akses darat ke wilayah terdampak bencana terbuka. Lebih dari 30 tenda besar dan 1.000 tenda keluarga telah dikirim, dengan jumlah tersebut terus bertambah.
Sebelumnya, berita menyoroti bahwa tenda-tenda BNPB baru dipasang menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana, bahkan ada warga yang mengungsi di bawah jembatan selama lebih dari seminggu. Namun, Suharyanto menjelaskan bahwa keterlambatan distribusi tenda bukan karena alasan politis, tetapi karena kendala akses. Sebelum akses darat terbuka, bantuan akan diprioritaskan lewat jalur udara, namun terbatasnya kapasitas helikopter untuk membawa tenda menjadi hambatan.
Kepala BNPB merupakan pejabat pertama yang langsung melakukan pendataan di Aceh Tamiang pasca-bencana. Salah satu kebutuhan mendesak yang diidentifikasi adalah tenda pengungsian dan tenda keluarga. Dengan akses darat baru dibuka beberapa hari terakhir melalui jalur Medan, BNPB mulai mengintensifkan pengiriman bantuan logistik dalam skala besar.
BNPB terus mendorong distribusi bantuan secara luas, sambil berharap media dapat memberikan informasi objektif dan mengevaluasi berbagai sumber informasi. Kritik publik menjadi pengingat bagi BNPB untuk selalu meningkatkan respons dan pelayanan di lapangan. Klarifikasi ini hadir di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap penanganan bencana di Aceh Tamiang, dengan harapan agar distribusi bantuan tidak hanya cepat, tetapi juga merata dan transparan. BNPB berkomitmen untuk terus memperbaiki sistem logistik dan komunikasi, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi tanpa menunggu momen seremonial atau kunjungan pejabat.





