Pentingnya Konektivitas Drainase Demi Kelancaran Proyek Kolam Retensi

by -64 Views

Kolam retensi seluas 2,6 hektare di kawasan Sempaja telah selesai dibangun, namun menghadapi tantangan konektivitas yang mengancam efektivitasnya dalam mengatasi banjir. Sistem drainase yang belum terkoneksi ke Gang Ahim menjadi titik lemah dalam sistem, menyebabkan air meluap kembali ke jalanan meskipun sudah ada kolam penampungan. Pembangunan infrastruktur fisik, menurut Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda Deni Hakim, harus diiringi dengan integrasi sistem yang matang untuk mencapai hasil yang optimal.

Deni Hakim menegaskan perlunya penyambungan saluran menuju Gang Ahim sebagai pekerjaan rumah berikutnya setelah pembangunan kolam retensi dan pintu air rampung. Tanpa membenahi daya tampung drainase di titik pertemuan aliran dari PM Noor, AWS, dan Wahid Hasyim, genangan air masih akan terjadi meskipun sudah ada kolam penampungan. Upaya menyelesaikan kendala konektivitas memerlukan tambahan anggaran sekitar Rp6 miliar, dengan Komisi III meminta cetak biru lengkap dari Bidang Sumber Daya Air (SDA) untuk memastikan sistem yang terkoneksi.

Selain itu, Deni juga menyoroti minimnya area resapan air di Samarinda akibat pembangunan di wilayah tangkapan air yang massif. Ia memperingatkan agar pemerintah lebih tegas dalam memberikan izin bangunan ke depan untuk mencegah keterbatasan resapan air yang menjadi pemicu banjir sulit surut. Komisi III juga memantau pembangunan tanggul oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) di kawasan Bengkuring yang belum terkoneksi seluruhnya agar mencegah air dari Sungai Karang Mumus melimpas ke pemukiman warga.

Dalam menutup tinjauan, Deni memberikan catatan khusus pada kolam retensi seluas 5 hektare milik Pemerintah Kota yang telah selesai dibangun. Ia menekankan pentingnya elevasi tanggul dan kebersihan akses di sekitar kolam untuk memastikan infrastruktur dapat bekerja optimal saat curah hujan tinggi. Kolam retensi dirancang tidak hanya untuk menampung air, tetapi juga untuk mengatur ritme aliran agar tidak membebani saluran drainase secara bersamaan. Integrasi antara berbagai sistem drainase dan kolam retensi di Samarinda menjadi kunci dalam upaya menanggulangi banjir dan melindungi warga dari genangan air yang merugikan.

Source link