Di Desa Pulau Miang, Kutai Timur, suara mesin kapal tongkang semakin sering terdengar, namun hasil tangkapan nelayan malah menurun drastis dalam setahun terakhir.
Nelayan Kesulitan
Pulau Miang dikenal sebagai spot memancing dan penghasil ikan laut, tetapi kondisinya mulai berubah akibat aktivitas bongkar muat batu bara yang semakin mendekat ke kawasan tangkapan ikan.
Jumri, seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan menurun drastis tahun ini. Jika sebelumnya puluhan kilogram ikan bisa dibawa pulang dalam satu kali menangkap, kini sulit mendapatkan lebih dari lima kilogram.
Dampak Industri Batu Bara
Kapal-kapal pengangkut batu bara yang berlabuh di sekitar perairan Pulau Miang membuat ikan menghindari area tangkapan nelayan, sehingga mereka harus melaut lebih jauh dan menghabiskan biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Meskipun sebelumnya cukup memancing sekitar satu kilometer dari desa, kini nelayan harus pergi lebih jauh namun hasil tangkapan belum tentu meningkat.
Harapan Warga
Kondisi ini mulai berdampak pada penghasilan warga pesisir yang mayoritas mencari nafkah dari laut. Beberapa nelayan bahkan mulai mengurangi frekuensi melaut karena biaya operasional yang tinggi.
Di tengah meningkatnya aktivitas industri batu bara di pesisir Kutai Timur, warga Pulau Miang berharap ruang tangkap nelayan tradisional tetap diperhatikan agar ekonomi masyarakat tidak semakin terdesak.





