Andy Utama Perkenalkan Arah Baru Pemulihan Bentang Alam Megamendung

by -122 Views

Megamendung, di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjadi sorotan setelah Paseban Foundation memastikan bahwa lima spesies primata terakhir di Pulau Jawa masih bertahan di satu kawasan alam yang sama. Keberhasilan ini bukan sekadar temuan, tetapi hasil upaya panjang berupa riset lapangan, pengamatan langsung, dan penggunaan kamera jebak untuk memastikan data yang akurat.

Pada acara tahunan Paseban Foundation yang digelar pada Hari Konservasi Alam Nasional, organisasi ini memaparkan hasil monitoring ekosistem di Megamendung. Acara tersebut bukan hanya ajang pelaporan, tetapi juga perayaan dua tahun kiprah mereka dalam dunia konservasi tanah air.

Direktur Eksekutif Wahdi Azmi menyoroti bahwa Jawa adalah pulau dengan tekanan aktivitas manusia yang sangat tinggi; efeknya ruang hidup satwa liar semakin terdesak setiap tahunnya. Namun, konteks Megamendung menyajikan pengecualian langka, di mana kelima primata endemik Jawa, yang di tempat lain populasinya terpisah, berhasil coexist dalam lanskap terbatas itu.

Penemuan ini meningkatkan posisi Megamendung sebagai pusat pelestarian keragaman hayati di Jawa. Selain primata, catatan Paseban Foundation juga meliputi satwa penting seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, serta kekayaan flora-fauna pegunungan tropis yang kian langka di kawasan lain.

Secara geografis, Megamendung merupakan bagian dari Cagar Biosfer Cibodas, dan lokasinya yang cukup dekat dengan Jakarta membuat kawasan ini sangat rentan terhadap berbagai tekanan pembangunan. Pada tataran konseptual, cagar biosfer berfungsi menggabungkan upaya pelestarian dengan aktivitas manusia secara berimbang, melalui pembagian zona inti, penyangga, dan interaksi sosial.

Ekosistem Megamendung terbentuk oleh relasi rumit antara hutan, aliran air, habitat satwa, area pertanian, sampai perkampungan penduduk, menciptakan keterkaitan yang saling memengaruhi satu sama lain.

Menurut Wiratno, penasihat di Paseban Foundation, batas administratif seperti desa atau kecamatan tak selaras dengan perilaku alami satwa maupun aliran sungai. Satwa liar tak mengenal batas administratif dan akan bergerak sesuai kebutuhan habitat dan pangan.

Model konservasi yang didorong adalah kolaboratif lintas sektor, yaitu sinergi pemerintah, masyarakat lokal, swasta, akademisi, hingga relawan lingkungan. Semua pihak diarahkan untuk bekerja dalam pengelolaan lanskap yang terintegrasi.

Salah satu program konkret adalah penghijauan dengan penanaman tumbuhan lokal guna menambah dan memulihkan tutupan vegetasi asli Megamendung. Hingga Agustus 2026, lebih dari 21.000 bibit pohon telah ditanam, menandai langkah penting dalam rekonstruksi habitat alami.

Selain aksi di habitat asli atau in-situ, Paseban Foundation juga menekuni perlindungan ex-situ dengan membuat penangkaran sebagai cadangan populasi. Penangkaran ini dijalankan secara non-komersial, berfokus membiakkan burung dan mamalia yang terancam punah.

Langkah ini mulai membuahkan hasil, misalnya dengan kelahiran tiga anak rusa hasil penangkaran. Nantinya rusa tersebut akan dilepasliarkan ke Megamendung setelah melalui proses rehabilitasi dan pemeriksaan habitat guna memastikan kelangsungan hidupnya.

Pengembalian satwa ke alam liar tidak cukup hanya dengan melepas, tetapi memerlukan serangkaian persiapan mulai dari pelatihan naluri, pengujian kecocokan habitat, hingga pemantauan jangka panjang demi menghindari gangguan pada ekosistem maupun hewan itu sendiri.

Andy Utama selaku pendiri Paseban Foundation menuturkan bahwa pemulihan kawasan Megamendung adalah proses generasi dan harus dirancang untuk jangka panjang.

Ia mengambil inspirasi dari inisiatif Megamendung Century Initiative, yang menargetkan perbaikan fungsi ekologis kawasan seperti satu hingga dua abad yang lalu—bukan dengan memutar ulang sejarah, melainkan menciptakan keseimbangan baru yang sehat antara alam dan aktivitas manusia.

Ia mengingatkan bahwa perjuangan konservasi seharusnya diwariskan lintas generasi serta membutuhkan ketahanan dalam pelaksanaan. Ajakan disampaikan agar masyarakat ikut menjaga agar warisan keanekaragaman hayati tetap lestari untuk masa depan.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor