Kapal Induk 5.000 Tentara AS Menuju Tetangga RI: Berita Terbaru

by -45 Views

Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln Segera Merapat di Thailand

Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Abraham Lincoln dijadwalkan akan segera merapat di Thailand pada pekan depan. Kedatangan kapal yang membawa sekitar 5.000 pelaut dan marinir ini dilakukan setelah pengerahan berkepanjangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran atas memburuknya kondisi fisik dan mental kru di atas kapal.

Dikutip dari laman Bangkok Post, kapal raksasa tersebut sudah melakukan perjalanan sejak Sabtu dan belum pernah bersandar di pelabuhan mana pun selama lebih dari 250 hari. Durasi ini telah memecahkan rekor modern untuk hari-hari berturut-turut sebuah kapal berada di lautan lepas.

Rencana Istirahat di Thailand

Seorang pejabat Thailand yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa ribuan pasukan AS tersebut akan berada di Thailand untuk beristirahat.

“Istirahat dan rekreasi setelah perjalanan laut mereka yang panjang,” jelasnya.

Meskipun tanggal dan lokasi pasti pelabuhan tempat mereka bersandar belum diumumkan secara resmi, kapal induk AS biasanya berhenti di Sattahip, Chon Buri.

Sebelumnya, laporan perdana mengenai pendaratan di pelabuhan ini awalnya bocor melalui pesan teks yang dikirim oleh anggota kru kepada keluarga mereka.

Misi Pengerahan yang Diperpanjang

USS Abraham Lincoln berangkat dari San Diego pada 21 November 2025 untuk pengerahan yang diperkirakan hanya berlangsung selama enam bulan. Namun, misi tersebut diperpanjang hingga lebih dari sembilan bulan, dengan satu-satunya pemberhentian pelabuhan sebelumnya hanya di Guam pada pertengahan Desember tahun lalu.

Melihat kondisi ekstrem ini, 15 senator AS menuntut jawaban dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Mereka menyoroti laporan krisis kekurangan air dan makanan, pipa ledeng yang rusak, kelelahan parah, hingga krisis kesehatan mental di antara kru kapal.

Hegseth menepis laporan tentang kondisi yang memburuk tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah kekeliruan. Presiden AS Trump, di sisi lain, semakin menyulut kemarahan keluarga militer dengan komentar pedasnya mengenai penugasan tersebut.

Source link