Crazy Rich Ngamuk, Vila Ambruk hingga Gugat Pengembang

by -38 Views

Gugatan seorang taipan perempuan Vietnam berusia 80 tahun atas kerusakan enam vila mewah di kawasan Ba Son berakhir dengan putusan sebagian. Pengadilan Rakyat Wilayah 1 Vietnam memerintahkan Elegance Real Estate Investment Company membayar biaya perbaikan, tetapi menolak tuntutan ganti rugi atas hilangnya pendapatan sewa senilai US$1,58 juta atau sekitar Rp28,12 miliar.

Taipan tersebut, Tran Thi Toan, merupakan pendiri sekaligus pengelola Toan Thang Co. Ltd., perusahaan yang memiliki tambang batu putih dan hotel mewah. Pada 2017, ia membeli enam vila yang berdiri berdekatan di proyek Vinhomes Golden River Ba Son. Nilai kawasan elite tersebut kini disebut mencapai triliunan dong, setara sekitar US$38,5 juta atau Rp685,3 miliar.

Kerusakan muncul saat proyek pencakar langit dimulai

Masalah mulai terjadi pada 2020, ketika Elegance membangun gedung pencakar langit Ba Son Central Complex tepat di sebelah deretan vila milik Toan. Menurut Toan, aktivitas pembangunan menyebabkan bangunan mengalami retak dan penurunan.

“Pembangunan proyek tersebut menyebabkan vila-vila mewah ini retak dan amblas,” tutur Toan. Ia mengatakan kondisi itu membuatnya tidak dapat memenuhi perjanjian sewa yang telah ditandatangani. Empat vila kemudian kosong dan terbengkalai.

Dalam gugatannya, Toan meminta US$150.000 atau sekitar Rp2,67 miliar untuk biaya perbaikan bangunan. Ia juga menuntut kompensasi US$1,58 juta atas pendapatan sewa yang hilang.

Elegance menolak seluruh klaim tersebut. Perusahaan menyatakan tidak memiliki hubungan kesepakatan dengan Toan dan berpendapat kerusakan disebabkan faktor alam, terutama karena vila dibangun di atas tanah lunak. Perusahaan juga meminta pengadilan mengesampingkan bukti pendapatan sewa yang dinilai diperoleh secara tidak sah.

Masterise Real Estate Development, yang menjadi tergugat pendamping, turut membantah keterlibatannya. Perusahaan menyatakan tidak memiliki kaitan dengan kerusakan vila dan meminta dibebaskan dari seluruh proses persidangan.

Pengadilan membedakan sumber kerusakan

Sebelum putusan dijatuhkan, Toan sempat menolak temuan Saigon Construction Inspection JSC mengenai penyebab kerusakan. Ia juga meminta penundaan sidang untuk menyerahkan hasil penilaian dari firma independen pilihannya.

Majelis hakim kemudian mengabulkan sebagian gugatan dengan menetapkan Elegance wajib menanggung biaya perbaikan sebesar US$65.384 atau sekitar Rp1,16 miliar. Nilai itu lebih rendah dibandingkan tuntutan awal Toan.

Pengadilan mempertimbangkan catatan survei sebelum pembangunan dimulai. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa vila-vila itu telah memiliki kerusakan awal, antara lain retakan rambut pada dinding perimeter, pilar pagar yang retak, serta penurunan di sejumlah bagian karena berdiri di atas tanah lunak.

Namun, majelis hakim menemukan bahwa pemompaan air tanah dan penggunaan alat berat dalam proyek Ba Son Central Complex mempercepat penurunan tanah. “Kerusakan pada vila 16 dan 17 terutama berasal dari dampak pembangunan proyek Ba Son Central Complex,” papar pengadilan.

Sementara itu, kerusakan pada vila 14, 15, 18, dan 19 dinilai berkaitan dengan penurunan alami bangunan serta kawasan di sekitarnya. Masterise juga dibebaskan dari tanggung jawab karena posisinya hanya sebagai pengembang, bukan investor proyek.

Pengadilan menyatakan kontraktor konstruksi berpotensi turut dimintai pertanggungjawaban bersama Elegance. Namun, karena Toan tidak menggugat kontraktor tersebut, ia tetap diberi hak untuk mengajukan perkara perdata terpisah pada kemudian hari.

Tuntutan atas kehilangan pendapatan sewa ditolak karena Toan dinilai tidak berhasil membuktikan kerugian aktual maupun hubungan sebab-akibat yang menunjukkan kerusakan fisik vila menjadi alasan utama berakhirnya kontrak para penyewa.

Source link