Sampah organik masih menjadi permasalahan yang serius di perkotaan, termasuk di Kota Bontang. PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menghadapi tantangan ini dengan program Urban Farming untuk Pengelolaan Sampah Organik dari Sumbernya. Program ini bertujuan untuk mendorong masyarakat Bontang mengelola sampah organik sejak awal, yaitu dari dapur, sambil memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Menurut AVP Agrosolution Pupuk Kaltim Wilayah Kaltimtara, Joko Trisilo, sekitar 60% sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sampah organik rumah tangga. Joko menjelaskan bahwa setiap keluarga rata-rata menghasilkan 1,7 kilogram sampah organik per hari, dengan total mencapai 620 kilogram per tahun.
Program ini bertujuan untuk tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran kolektif dalam pengelolaan lingkungan. Pupuk Kaltim melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan komunitas perempuan sebagai aktor utama dalam program ini. Empat KWT di Bontang sudah memasuki tahap pendampingan aktif dari total 20 KWT yang mendaftar sebagai peserta.
Selain itu, Pupuk Kaltim juga memanfaatkan produk Biodex, bioaktivator berbasis mikroorganisme aktif, untuk mempercepat proses pengomposan sampah organik. Program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan dan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pemerintah Kota Bontang mendukung program ini, menganggapnya sejalan dengan Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (GESIT). Staf Ahli Pemkot Bontang, Lukman, berharap program Urban Farming bisa diperluas ke wilayah-wilayah lain dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Akan ada pendampingan, monitoring, dan evaluasi lanjutan untuk memastikan manfaat dari program ini dirasakan secara berkelanjutan.





