Anak Muda Perlu Pahami Sistem Global untuk Hadapi Krisis Dunia

by -133 Views

Ketakutan masyarakat akan kemungkinan terjadinya perang dunia baru-baru ini mencuat ke permukaan, tidak hanya lewat unggahan media sosial tetapi juga dalam berbagai percakapan informal. Keresahan ini menjadi latar belakang utama terwujudnya acara IR Youth Talks#1 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek sebagai bentuk respons terhadap kegamangan publik.

Bertempat di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026, forum terbuka ini menawarkan ruang diskusi bagi kalangan muda untuk menelusuri isu global terkini, khususnya dari perspektif posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia.

Mengusung topik “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global,” sesi diskusi diawali oleh Anggy Pasaribu, jurnalis dan pendiri “Story of Anggy” yang merupakan lulusan Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan. Dengan pertanyaan pemantik yang sederhana, Anggy mengajak para peserta mempertanyakan apakah kekhawatiran terhadap ancaman perang dunia benar-benar beralasan atau sekadar dibesar-besarkan.

Anggy menekankan pentingnya untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia menggiring audiens agar memandang kompleksitas peristiwa global dengan logika yang jernih dan berpikir kritis sebelum mempercayai narasi ketakutan yang beredar.

Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, turut hadir memberi penegasan bahwa generasi muda tidak sepatutnya terperangkap dalam wacana spekulatif soal perang dunia. Menurutnya, perhatian anak muda perlu diarahkan untuk membina kesiapan nasional dalam menghadapi macam-macam krisis global yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Ia menegaskan, “Prioritas kita bukan pada prediksi perang, melainkan pada kesiagaan nasional.”

Aloysius menjabarkan, Lemhannas senantiasa melakukan pemetaan sistematis atas potensi ancaman eksternal melalui pendekatan penilaian menyeluruh, rancangan skenario, hingga pengukuran kerentanan nasional. Analisis tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki titik-titik rentan seperti tingginya ketergantungan pada energi dan pangan impor serta posisi sentral di kawasan Indo-Pasifik yang sarat persaingan antar negara besar.

Kondisi strategis ini menjadikan Indonesia sangat mudah terseret dampak dari perubahan atau gejolak global, mulai dari masalah fluktuasi harga energi, gangguan stabilitas ekonomi, sampai ancaman keamanan dalam negeri.

Lebih jauh, Aloysius menyoroti peranan Pancasila sebagai kekuatan utama pertahanan bangsa. Ia menilai, keutuhan suatu negara sangat dipengaruhi kekuatan ideologinya, bukan hanya oleh kapabilitas ekonomi atau militer semata. Dengan fondasi ideologi yang kokoh, tekanan eksternal tidak akan mudah melunturkan kesatuan bangsa.

Di sisi lain, Broto Wardoyo yang menjabat Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia mendorong audiens untuk memahami dinamika global tidak secara reaktif namun lebih konseptual. Ia menyatakan bahwa banyaknya konflik belakangan ini lebih merefleksikan perubahan besar dalam sistem internasional, bukan semata-mata pertanda menuju perang dunia.

Broto berpendapat, setiap krisis di dunia saat ini saling berhubungan dan perlu dilihat sebagai bagian dari transformasi global, bukan sekadar peristiwa yang terpisah. Ia juga memberikan contoh dampak kepemimpinan politik dunia seperti Donald Trump yang memperbesar ketidakpastian internasional lewat berbagai kebijakan kontroversial.

Sebagai langkah kebijakan, Broto memperkenalkan konsep ketahanan (resilience) dan strategi hedging sebagai cara bagi Indonesia untuk tetap fleksibel serta tangguh dalam mengatasi gelombang rivalitas dunia dan krisis saling terkait.

IR Youth Talks memberi ruang pertemuan bagi pembuat kebijakan, akademisi, dan kaum muda, menghadirkan wadah dialog lintas institusi yang inklusif. Forum ini merupakan hasil sinergi dari enam universitas AIHII Chapter Jabodetabek, yakni Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara, Universitas Pertamina, Universitas Budi Luhur, Universitas Jayabaya, serta Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama.

Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional President University yang juga perwakilan AIHII, menuturkan dalam sambutannya bahwa forum ini hadir untuk menjembatani pengetahuan studi Hubungan Internasional kepada mahasiswa lintas kampus, serta membiasakan generasi muda untuk kritis terhadap isu-isu global yang berdampak ke masa depan mereka.

Diskusi di forum tersebut menyoroti pentingnya generasi muda memahami dan terlibat secara langsung pada dinamika hubungan internasional yang kian berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari.

Menjelang penutupan, Anggy Pasaribu kembali menegaskan peran positif dialog publik. Ia menyarankan siapa pun yang ingin mengkritisi kebijakan atau wacana global tetap bisa melakukan itu, tetapi hendaknya secara santun dan berbasis pengetahuan.

Ia berpesan, “Kritik itu efektif jika disampaikan dengan sopan dan di tempat yang tepat.”

Lebih lanjut, Anggy juga memberikan motivasi bahwa keterlibatan anak muda di isu publik tidak harus dirayakan lewat aksi keras, melainkan dimulai dengan pemahaman mendalam dan kontribusi pemikiran yang konstruktif.

Pada akhirnya, ia menutup dengan mengingatkan bahwa realitas global memang penuh ketidakpastian, namun respons terbaik yang bisa diberikan adalah kesiapan dan pemahaman, bukan kepanikan yang tak berdasar.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko