Boikot Produk Amerika Menggila, Supermarket Berubah Total

by -68 Views

Supermarket dan toko kelontong di Kanada mulai mengubah sumber pasokan serta memperjelas label asal barang ketika konsumen semakin gencar menghindari produk Amerika Serikat. Pergeseran itu terlihat dari turunnya porsi impor sayuran asal AS menjadi 62,6% pada Juli 2026, dibandingkan 69% pada periode yang sama pada 2023.

Perubahan perilaku belanja tersebut dipicu perang dagang akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Gerakan boikot yang telah muncul sejak tahun lalu kembali menguat setelah perundingan perdagangan menemui jalan buntu dan Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika atau Lake America.

Tekanan dari konsumen kini dirasakan langsung oleh jaringan pasar independen Vince’s Market di Ontario. Giancarlo Trimarchi, kepala jaringan tersebut, menerima banyak email dan komentar yang memprotes dugaan bahwa tokonya masih menjual produk AS. Ia kemudian mengunggah video di Facebook untuk memperlihatkan bahwa sebagian besar produk segar yang ditawarkan berasal dari Kanada.

“Situasinya jauh lebih agresif kali ini dibandingkan tahun lalu,” kata Trimarchi dalam wawancara yang dikutip Reuters, Minggu (13/9/2026).

Peritel memperketat label asal produk

Empat gerai Vince’s Market di Greater Toronto Area kini berupaya mengisi hingga 90% persediaannya dengan produk lokal. Perusahaan itu juga mulai memasok stroberi dari Quebec. Perombakan rantai pasok meningkatkan biaya operasional, sehingga Trimarchi harus memangkas anggaran iklan.

Menurut dia, pertimbangan dalam menentukan produk tidak lagi terbatas pada mutu dan harga. “Dulu kami selalu dihadapkan pada pilihan menyeimbangkan antara kualitas versus harga. Sekarang, pilihannya adalah kualitas versus harga versus negara asal produk,” ujarnya.

Peritel besar mengambil langkah serupa. Loblaw Cos, peritel makanan terbesar di Kanada, pada Agustus kembali memasang papan berukuran besar bergambar daun maple di seluruh bagian produk segar untuk menunjukkan asal barang. Loblaw juga memberlakukan kembali label “T” pada produk yang terdampak tarif, sehingga konsumen lebih mudah mengenalinya.

Metro, peritel terbesar ketiga di Kanada, juga menyatakan akan memprioritaskan produk lokal. Gary Sands, Wakil Presiden Senior Kebijakan Publik dan Advokasi Federasi Peritel Independen Kanada, menilai perubahan sikap konsumen tidak bersifat sementara. “Telah terjadi perubahan permanen dalam jiwa masyarakat Kanada,” katanya.

Kanada selama ini bergantung pada pasokan pangan dari AS dan tercatat sebagai importir sayuran segar terbesar kelima di dunia. Selain sayuran, lebih dari separuh impor buah Kanada berasal dari negara tetangganya tersebut. Namun, boikot membuat produk AS menghadapi ruang pasar yang semakin terbatas.

Pasokan bergeser ke negara lain

Sikap itu juga terlihat pada konsumen seperti John Ambard, insinyur perangkat lunak berusia 27 tahun di Toronto. Ia memeriksa label dengan teliti dan mencari informasi di internet untuk memastikan barang yang dibelinya tidak berada di bawah kepemilikan korporasi Amerika.

“Jujur saja, saya merasa sangat marah dengan Amerika atas apa yang terjadi saat ini. Sikap mereka sama sekali bukan tindakan seorang teman,” kata Ambard.

Boikot menghadirkan tantangan tersendiri karena musim dingin ekstrem membatasi produksi pertanian domestik Kanada. Pemerintah merespons kondisi tersebut dengan menyediakan dana hingga C$3 miliar selama 10 tahun untuk memperluas pembangunan rumah kaca. Kebijakan itu ditujukan untuk memperkuat produksi pangan sekaligus menekan inflasi pangan Kanada yang tertinggi di antara negara-negara G7.

Para pelaku ritel juga mencari pemasok baru di luar Amerika Serikat. Gordon Dean, pemilik Mike Dean Local Grocer di wilayah perdesaan Ontario dan Quebec, mengatakan tokonya kini lebih banyak mendatangkan produk segar dari Spanyol, Brasil, dan Honduras.

“Tidak ada seorang pun yang berniat kembali ke rantai pasokan AS. Begitu rantai pasokan baru terbentuk, pasarnya jauh lebih terdiversifikasi dan kita berada di posisi yang jauh lebih aman,” ujar Dean.

Source link