Rencana Besar Bioetanol Terancam Gagal, Ini Akar Masalahnya

by -55 Views

Rencana pemerintah menyiapkan hingga 2 juta hektare lahan untuk pengembangan bioetanol dinilai belum cukup matang oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Petani meminta target tersebut tidak ditetapkan hanya berdasarkan ambisi pencampuran etanol dalam bensin, melainkan disesuaikan dengan kesiapan bibit, lahan, pabrik pengolahan, serta dukungan pemerintah daerah.

Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan, tantangan pertama terletak pada penyediaan bibit tebu. Menurut dia, pembibitan tidak dapat dilakukan secara cepat karena harus melewati beberapa tahapan hingga menghasilkan benih yang siap ditanam.

Kebutuhan bibit tidak bisa dipenuhi secara instan

Soemitro mencontohkan, apabila pemerintah ingin mengembangkan penanaman tebu di lahan seluas 1 juta hektare, area yang dibutuhkan untuk menyiapkan bibit mencapai sekitar seperenam dari target tersebut. Artinya, diperlukan kurang lebih 160 ribu hektare Kebun Benih Datar (KBD) untuk menghasilkan benih yang akan digunakan pada lahan pengembangan.

“Jadi kalau kita bilang mau menanam tebu sekian juta hektare. Misalnya 1 juta hektare, maka benih yang harus disiapkan itu seperenamnya,” kata Soemitro saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (23/9/2026).

Ia menjelaskan, tahapan pembibitan tebu memerlukan waktu sekitar 30 bulan. Karena itu, penanaman tebu tidak dapat dilakukan serentak seperti padi. Kebutuhan waktu tersebut, kata dia, harus dihitung sejak awal agar target pengembangan bioetanol tidak berhenti sebagai angka perencanaan.

“Jadi ini memakan waktu 30 bulan. Nggak bisa ini dipotong. Jadi itu kita nggak bisa serentak menanam kayak padi,” ujarnya.

Soemitro menegaskan, pemerintah perlu menetapkan sasaran berdasarkan kemampuan dan modal dasar yang tersedia, sekaligus mencantumkan jadwal yang realistis. “Target itu harus disesuaikan dengan kemampuan kita, modal dasar kita dan harus ada target waktu yang jelas,” kata dia.

Lahan harus terhubung dengan pabrik pengolahan

Pemerintah sebelumnya menyatakan akan menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare untuk mendukung pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar. Dari total tersebut, sekitar 1 juta hektare ditujukan untuk komoditas tebu. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut bioetanol akan dikembangkan melalui tiga komoditas utama, yakni tebu, singkong, dan jagung.

Penanaman ditargetkan mulai berjalan pada tahun depan untuk mendukung pencapaian campuran etanol dalam bensin hingga 50 persen atau E50. Namun, APTRI menilai target lahan itu harus disertai kejelasan lokasi dan rencana pengolahan hasil panen.

Soemitro mengatakan tebu yang telah ditanam harus segera diproses di pabrik. Karena itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan lahan, perizinan, infrastruktur, dan tenaga kerja, sekaligus menarik investor untuk membangun fasilitas pengolahan.

“Terus pada finalisasinya, tebu itu harus diolah oleh pabrik. Mampu nggak kumpulin Pemda itu untuk sediain tanah, atau nyari investornya?” tutur Soemitro.

Ia juga mempertanyakan lokasi yang akan digunakan untuk memenuhi target 2 juta hektare. Menurutnya, target tidak dapat dijalankan tanpa basis lahan yang sudah teridentifikasi.

Soemitro meminta pemerintah menempuh pengembangan bioetanol secara bertahap dan tidak terburu-buru mengejar E50. Ia menilai kemampuan produksi bahan baku dan kesiapan industri harus lebih dulu dibuktikan, termasuk untuk target campuran yang lebih rendah.

“Jangan dadak-dadak, pelan-pelan,” pungkasnya.

Source link