Benarkah Chatbot AI Butuh Banyak Air? Ini Faktanya!

by -51 Views

Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) memang memiliki jejak penggunaan air, tetapi besarannya tidak bisa disamaratakan untuk setiap pertanyaan. Kebutuhan air bergantung pada model yang digunakan, kompleksitas tugas, teknologi pendingin, lokasi pusat data, efisiensi perangkat keras, serta sumber listrik yang memasok energi.

Air dibutuhkan untuk mendinginkan pusat data

Layanan chatbot berjalan di atas server dengan kemampuan komputasi tinggi. Saat beroperasi, komponen-komponen tersebut menghasilkan panas sehingga pusat data memerlukan sistem pendingin agar tetap berada pada suhu yang sesuai.

Sebagian pusat data menggunakan air untuk menyerap dan membuang panas dari fasilitas tersebut. Artinya, semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula tantangan untuk mengelola panas dan sumber daya pendinginan. Namun, kebutuhan air antar-pusat data bisa berbeda karena dipengaruhi teknologi pendingin, kondisi iklim, desain fasilitas, serta kebijakan pengelolaan air.

Penggunaan air juga tidak hanya berkaitan dengan pendinginan langsung di pusat data. Air dapat digunakan secara tidak langsung dalam proses pembangkitan listrik yang memasok energi ke fasilitas tersebut.

Penelitian yang diterbitkan pada 2025 memperkirakan konsumsi air pusat data global mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Dari angka itu, sekitar 373 miliar liter berkaitan dengan penggunaan air secara tidak langsung untuk pembangkitan listrik, sedangkan sekitar 140 miliar liter merupakan penggunaan langsung di pusat data.

Angka tersebut merupakan estimasi untuk seluruh pusat data, bukan konsumsi satu chatbot atau satu pertanyaan tertentu. Karena itu, angka konsumsi global tersebut tidak dapat diterapkan begitu saja pada setiap interaksi dengan AI.

Konsumsi per pertanyaan tidak selalu sama

Perbedaan angka penggunaan air AI juga dipengaruhi metode penghitungan. Sebagian pengukuran hanya memperhitungkan proses komputasi, sementara metode lain turut memasukkan kebutuhan sistem pendingin dan air yang digunakan dalam pembangkitan listrik.

Google, misalnya, mengukur konsumsi sumber daya layanan Gemini pada 2025. Berdasarkan data Mei 2025 dan metodologi yang mencakup energi sistem serta konsumsi air pusat data, perusahaan itu memperkirakan satu prompt teks median di Gemini Apps menggunakan sekitar 0,26 mililiter air.

Google menegaskan angka tersebut merupakan pengukuran pada titik waktu tertentu dan tidak berlaku untuk seluruh layanan AI. Dengan demikian, tidak tepat menyebut setiap pertanyaan pada chatbot pasti menghabiskan jumlah air yang sama.

Pertumbuhan penggunaan tetap menjadi perhatian

Efisiensi per permintaan tidak serta-merta menghilangkan dampak lingkungan AI karena jumlah penggunaannya terus meningkat. International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global naik 17 persen pada 2025. Pada periode yang sama, konsumsi listrik pusat data yang berfokus pada AI meningkat sekitar 50 persen.

IEA memperkirakan konsumsi listrik seluruh pusat data dapat meningkat dari sekitar 485 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 950 TWh pada 2030. Pertumbuhan ini membuat kebutuhan energi dan pengelolaan air tetap menjadi perhatian, meskipun teknologi yang digunakan semakin efisien.

Sejumlah perusahaan mengembangkan sistem untuk menekan kebutuhan air. Microsoft melaporkan rata-rata water usage effectiveness (WUE) pusat datanya turun dari 2,3 liter per kilowatt-jam menjadi 0,27 liter per kilowatt-jam pada 2025. Menurut perusahaan tersebut, penurunan itu didukung teknologi pendinginan dan peningkatan operasional.

Dalam laporan lingkungan 2026, Google menyebut proyek pengelolaan airnya pada 2025 telah melakukan pengisian kembali sekitar 7,7 miliar galon air, setara sekitar 78 persen dari konsumsi air tawar perusahaan pada tahun tersebut.

Jejak air chatbot AI karena itu perlu dinilai berdasarkan data dan metode pengukuran yang jelas. Besarnya konsumsi ditentukan bukan hanya oleh satu pertanyaan, melainkan juga oleh skala penggunaan, jenis pekerjaan yang dilakukan, infrastruktur pusat data, sistem pendingin, dan sumber energi yang digunakan.

Source link