**Geger Perang Keluarga Rebut Rp5.800 T, Bank Sentral Terseret**

by -51 Views

Ketegangan di tubuh Grup Tata kembali terbuka setelah Bank Sentral India (RBI) menolak permohonan Tata Sons untuk membatalkan statusnya sebagai Perusahaan Investasi Inti (CIC). Keputusan tersebut membuat perusahaan harus menghadapi kewajiban mencatatkan sahamnya di bursa, sekaligus memperuncing perselisihan antara dewan direksi Tata Sons dan Tata Trusts, pemegang saham mayoritas konglomerasi dengan valuasi US$328 miliar atau sekitar Rp5.838,4 triliun.

Penolakan RBI Picu Perselisihan

RBI mengklasifikasikan Tata Sons sebagai perusahaan keuangan non-bank lapisan atas atau NBFC-UL pada September 2022. Status itu mewajibkan perusahaan melakukan penawaran umum saham dan mencatatkan sahamnya di bursa dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Untuk menghindari kewajiban tersebut, Tata Sons mengajukan pembatalan registrasi sebagai CIC. Namun, RBI menolak permohonan itu pada 12 September. Penolakan tersebut membuat Tata Sons harus melanjutkan persiapan menuju listing di pasar saham publik.

Persoalan yang kemudian muncul tidak berhenti pada keputusan regulator. Tata Trusts, yang menguasai sekitar 66 persen saham Tata Sons, disebut merasa tidak memperoleh informasi yang memadai mengenai proses pengajuan dokumen kepada RBI maupun pilihan-pilihan alternatif yang dibahas dengan regulator.

“Tampaknya pihak Trusts sama sekali tidak tahu-menahu mengenai pembicaraan dengan pihak RBI,” kata seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut, seperti dikutip The Indian Express, Jumat (25/9/2026).

Perbedaan pandangan itu mencuat dalam rapat dewan direksi Tata Sons pada 17 September. Dalam rapat tersebut, dewan memutuskan untuk mematuhi arahan RBI dan meneruskan proses listing. Keputusan itu diambil ketika Tata Trusts disebut tidak sepenuhnya mengetahui komunikasi yang berlangsung antara manajemen Tata Sons dan regulator.

Perpanjangan Jabatan Pimpinan Dipersoalkan

Rapat yang sama juga menyetujui perpanjangan masa jabatan N. Chandrasekaran sebagai ketua eksekutif Tata Sons selama lima tahun. Keputusan tersebut memperlihatkan perbedaan sikap di antara perwakilan Tata Trusts.

Ketua Tata Trusts, Noel Tata, menolak perpanjangan jabatan itu. Sementara itu, direktur yang juga menjadi utusan Trusts, Venu Srinivasan, memberikan dukungan.

Pihak internal menilai keputusan tersebut melanggar prosedur persetujuan yang diatur dalam konstitusi perusahaan. “Hak suara penentu (casting vote) tidak dapat menggantikan suara afirmatif dari kedua direktur utusan Trusts yang secara spesifik disyaratkan dalam Anggaran Dasar,” ujar sumber tersebut.

Riwayat Konflik Tata dan Mistry

Perselisihan terbaru ini kembali menguji hubungan antara dua kelompok pemegang saham utama Tata Sons. Tata Trusts terbentuk dari pewarisan kepemilikan saham perusahaan ke yayasan amal filantropi dan kini memegang sekitar 66 persen saham. Adapun keluarga Mistry melalui Shapoorji Pallonji Group (SP Group) menguasai sekitar 18,4 persen saham, menjadikannya pemegang saham tunggal terbesar di luar ekosistem keluarga Tata.

Grup Tata didirikan Jamsetji Tata pada 1868 sebagai perusahaan perdagangan kapas. Keluarga Mistry mulai menjadi pemegang saham Tata Sons pada 1930-an. Hubungan kedua keluarga bisnis itu berlangsung harmonis selama puluhan tahun sebelum retak pada Oktober 2016, ketika Cyrus Mistry dicopot secara mendadak dari jabatan ketua eksekutif Tata Sons.

Pemberhentian tersebut memicu sengketa hukum. Kubu Mistry menuduh Ratan Tata dan Tata Trusts terlalu dominan, mencampuri operasional dewan, serta mengabaikan hak pemegang saham minoritas. Tata Sons membantahnya dengan menyatakan dewan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Mistry yang dinilai mengambil keputusan tanpa persetujuan. Mahkamah Agung India kemudian memenangkan Tata Sons pada Maret 2021 dan menegaskan keabsahan dominasi konstitusional Tata Trusts.

Source link