**PHR Produsen Minyak Terbesar, Perkuat Ketahanan Energi Nasional**

by -51 Views

Ketahanan energi Indonesia menghadapi dua tantangan sekaligus: kebutuhan yang terus meningkat dan produksi dari lapangan migas matang yang secara alamiah menurun. Dalam kondisi itu, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berupaya menjaga kontribusinya melalui optimalisasi lapangan eksisting, eksplorasi, serta pemanfaatan teknologi.

Corporate Secretary PHR Eviyanti Rofraida mengatakan, posisi perusahaan strategis karena produksi PHR Regional 1 menyumbang hampir sepertiga produksi migas nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam Sosialisasi Kebijakan Energi, Akselerasi Kapasitas Publik dalam Pemahaman Kebijakan Energi Nasional dan Isu Strategis serta Cadangan Energi Nasional di Kampus Universitas Jambi, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).

“PHR itu KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dengan produksi terbesar. Kalau total produksi seluruh PHR Regional 1, hampir sepertiga produksi migas nasional. Itu menggambarkan betapa strategisnya posisi PHR,” ujar Eviyanti.

Menahan Penurunan Produksi Lapangan Matang

Menurut Eviyanti, langkah awal yang dilakukan PHR adalah mempertahankan produksi dasar atau baseline production dari lapangan yang sudah beroperasi. Upaya ini ditujukan untuk menekan laju penurunan produksi, sehingga penurunan yang terjadi tidak terlalu besar.

“Yang utamanya adalah me-maintain baseline, bagaimana yang sudah ada ini kalaupun turun, decline-nya tidak jauh. Kalau bisa kita maintain tidak turun, kalaupun turun sedikit,” katanya.

Strategi tersebut dilengkapi dengan pencarian sumber produksi baru dan penerapan teknologi untuk meningkatkan perolehan migas. PHR mengevaluasi potensi berdasarkan data yang tersedia, kemudian melakukan eksplorasi terhadap sumber daya yang berpeluang dikembangkan menjadi produksi.

Di Jambi, salah satu proyek yang mendapat perhatian adalah Puspa Asri. Proyek itu diproyeksikan memberikan tambahan produksi yang strategis bagi Pertamina EP Jambi. PHR juga menilai keberlanjutan kegiatan operasi, eksplorasi, dan pengembangan wilayah baru membutuhkan dukungan pemerintah daerah serta perguruan tinggi agar dapat berlangsung aman dan berkelanjutan.

Produksi, Diversifikasi, dan Cadangan Penyangga

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Muhammad Kholid Syeirazi, mengatakan penguatan ketahanan energi harus dimulai dari peningkatan produksi energi, baik fosil maupun nonfosil. Untuk minyak, peningkatan lifting diperlukan, sedangkan produksi gas juga harus diperkuat agar ketergantungan terhadap impor dapat ditekan.

Ia menyebut diversifikasi energi sebagai langkah yang perlu berjalan beriringan. Pengembangan biodiesel ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor solar, sementara etanol didorong sebagai alternatif untuk kebutuhan bensin.

Penerapan B50 menjadi salah satu agenda besar dalam pengembangan biodiesel. Namun, Kholid mengingatkan bahwa peningkatan bauran tersebut harus ditopang kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku atau feedstock. Produktivitas perkebunan, menurut dia, perlu ditingkatkan tanpa harus memperluas lahan secara signifikan.

“Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” ujarnya.

Selain memperbesar produksi, DEN mendorong pembentukan cadangan penyangga energi. Cadangan ini berbeda dari cadangan operasional yang disiapkan badan usaha untuk kebutuhan sehari-hari. Targetnya, cadangan penyangga dapat mencapai setara 30 hari impor pada 2035. Sebelum mencapai sasaran itu, Kholid menyebut pengadaan cadangan lima hingga 10 hari dapat dilakukan secara bertahap, dengan target ideal 60 hingga 90 hari.

Jambi dinilai memiliki posisi penting karena memiliki sumber daya minyak dan gas bumi, batu bara, biomassa, serta komoditas perkebunan yang dapat menjadi bahan baku energi. Kholid mengingatkan agar daerah penghasil energi tetap memastikan kebutuhan energinya sendiri terpenuhi.

Peran Perguruan Tinggi

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jambi, Hafrida, mengatakan perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia, dan pusat studi. “Perguruan tinggi punya fungsi terutama penelitian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan satu strategi yang cukup penting dalam rangka mewujudkan kebutuhan-kebutuhan energi,” ujarnya.

Universitas Jambi memiliki Fakultas Sains dan Teknologi serta sejumlah pusat studi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kajian energi. Kolaborasi dengan industri dan pemangku kebijakan diharapkan menghasilkan riset yang menjawab kebutuhan nyata sektor energi.

Source link