Pupuk Kaltim Uji Kesiapsiagaan Terorisme Dalam Drilling Test BCMS

by -49 Views

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) terus memperkuat ketangguhan bisnisnya dengan menggelar Drilling Test Business Continuity Management System (BCMS) berdasarkan SNI ISO 22301:2019. Simulasi ini dilakukan untuk menguji kesiapan perusahaan dalam menghadapi situasi krisis, termasuk ancaman terorisme yang dapat membahayakan keselamatan karyawan dan kelangsungan operasional. Dalam simulasi tersebut, perusahaan merespons ancaman bom dengan meningkatkan kewaspadaan, memperketat pengamanan, dan melakukan koordinasi lintas fungsi.

Skenario selanjutnya melibatkan ledakan fasilitas operasional yang mengganggu suplai energi. Perusahaan mengambil langkah-langkah tertentu seperti mengaktifkan sistem proteksi, membentuk Command Center, dan melakukan asesmen dampak menyeluruh. Manajemen kemudian menetapkan kondisi darurat dan mengaktifkan Business Continuity Plan (BCP) untuk memastikan fungsi kritikal tetap berjalan dan mempersiapkan pemulihan secara terstruktur.

Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, menyebut drilling test BCMS sebagai upaya memperkuat budaya kesiapsiagaan dan tata kelola risiko. Ia menegaskan pentingnya BCMS dalam menjaga proses bisnis dan memastikan kelangsungan operasional perusahaan, terutama di tengah risiko yang beragam seperti ancaman terorisme dan serangan siber.

Selain menguji kesiapan, simulasi juga berperan sebagai evaluasi objektif untuk mengidentifikasi area yang perlu diperkuat. Hasilnya akan digunakan untuk penyempurnaan sistem serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. VP Manajemen Risiko Korporasi, Lisa Handayani, menegaskan bahwa penerapan ISO 22301:2019 merupakan langkah nyata untuk memastikan organisasi tetap tangguh dalam menghadapi krisis.

BCMS bukan hanya soal pemenuhan standar administratif, tetapi juga tentang pemahaman dan konsistensi dalam menjalankannya. Lisa menekankan bahwa keberhasilan BCMS tidak hanya ditentukan oleh prosedur tetapi juga oleh dukungan seluruh insan organisasi. Hal ini penting agar sebuah perusahaan benar-benar siap menghadapi krisis tanpa terlalu banyak keraguan.

Source link