Kelangkaan BBM di Kutim Tambah Rumit dengan Praktik Curang Penggunaan Barcode dan Ganti Pelat
Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kutai Timur (Kutim) semakin panjang akhir-akhir ini. Masalah semakin bertambah dengan dugaan penggunaan barcode berbeda dan pergantian pelat kendaraan saat pembelian BBM subsidi. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim mengungkap bahwa praktik curang semacam itu masih terjadi dan bisa mengganggu distribusi BBM subsidi yang seharusnya untuk masyarakat berhak.
Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, menjelaskan bahwa terdapat kasus penggunaan barcode yang tidak sesuai atau pergantian pelat kendaraan. Hal ini seharusnya terdeteksi oleh petugas SPBU untuk mencegah penyalahgunaan BBM subsidi.
Sistem Barcode Pertamina dan Masalah Pengawasan
Pemerintah sebelumnya menerapkan sistem barcode bersama Pertamina untuk memastikan pembelian BBM subsidi tepat sasaran dan mencegah pengisian berulang oleh kendaraan yang sama. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat celah pengawasan di tingkat SPBU.
Dalam kondisi pasokan yang terbatas, dugaan praktik curang semakin menonjol karena langsung berdampak pada masyarakat yang harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mendapatkan BBM. Kelangkaan BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, menjadi perhatian utama di sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, termasuk Kutim.
Pengawasan Ketat dan Ancaman Sanksi Hukum
Disperindag Kutim meminta pengelola SPBU untuk memperketat pemeriksaan saat transaksi pembelian BBM subsidi. Pengawasan yang ketat dianggap kunci untuk mencegah penimbunan atau pembelian berulang yang berpotensi untuk dijual kembali. Nora menegaskan bahwa penyalahgunaan BBM subsidi merupakan pelanggaran hukum dan bisa berujung pada sanksi pidana.
Meski begitu, Disperindag menegaskan bahwa distribusi BBM sepenuhnya berada di bawah koordinasi pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM, Pertamina, dan BPH Migas. Pihaknya hanya dapat melaporkan kondisi di lapangan dan keluhan masyarakat kepada instansi terkait melalui koordinasi dengan area penjualan Pertamina di wilayah Bontang, Kutim, dan Berau.





