**Megathrust-Tsunami Ancam Jakarta-Jawa? Kata BMKG & Pakar**

by -68 Views

Klaim bahwa gempa besar akan mengguncang Indonesia sebelum akhir 2026 kembali menyebar di media sosial. Pernyataan itu berasal dari Frankie MacDonald, pengamat cuaca amatir dan kreator konten asal Kanada, yang menyebut Jawa, termasuk Jakarta, berpotensi terdampak gempa berkekuatan M7,0 hingga M9,0.

Dalam video di kanal YouTube-nya, MacDonald mengimbau masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan dampak gempa. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran, terutama karena namanya sebelumnya juga dikaitkan dengan sejumlah kejadian gempa di Indonesia.

Potensi megathrust memang ada, tetapi waktunya tidak bisa diprediksi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sejumlah pakar telah berulang kali menjelaskan potensi gempa megathrust di Indonesia. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat 14 zona megathrust, yakni Aceh-Andaman dengan magnitudo maksimum M9,2; Nias-Simeulue M8,7; Batu M7,8; Mentawai-Siberut M8,9; Mentawai-Pagai M8,9; Enggano M8,9; Jawa M9,1; Jawa bagian barat M8,9; Jawa bagian timur M8,9; Sumba M8,9; Sulawesi Utara M8,5; Palung Cotobato M8,3; Filipina Selatan M8,2; serta Filipina Tengah M8,1.

Zona Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi perhatian karena disebut belum mengalami pelepasan energi besar selama ratusan tahun. Kondisi tersebut dikenal sebagai seismic gap, yakni zona sumber gempa aktif yang belum mengalami gempa besar dalam kurun puluhan hingga ratusan tahun dan diyakini sedang mengakumulasi energi.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, kekosongan gempa besar di wilayah Selatan Banten dan Selat Sunda telah berlangsung sejak 1757 atau 269 tahun. Sementara itu, wilayah Mentawai dan Siberut disebut mengalami kondisi serupa sejak 1797 atau 229 tahun. “Namun, tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi,” kata Daryono kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (8/9/2026).

Menurut Daryono, zona megathrust Selat Sunda paling berpotensi berdampak pada Jakarta dan Jawa Barat. Gempa megathrust juga dapat memicu tsunami, bergantung pada kekuatan serta kondisi saat gempa berlangsung. Berdasarkan pemodelan, gelombang tsunami yang tiba di pesisir dapat melampaui 3 meter. Pada wilayah pantai yang landai, tinggi gelombang disebut bisa mencapai 4 meter, 5 meter, bahkan 20 meter.

BMKG: Seluruh segmen dipantau

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan pemantauan dilakukan terhadap seluruh sumber kegempaan, bukan hanya segmen tertentu. “Semua segmen jadi prioritas BMKG. BMKG memantau 24/7 aktivitas kegempaan di seluruh Indonesia. Baik itu yang bersumber dari megathrust maupun dari sesar aktif,” ujarnya.

Wijayanto menyebut segmen Selat Sunda dapat berdampak ke Jakarta dan hal itu telah beberapa kali disosialisasikan kepada pemerintah daerah serta instansi terkait. Mengacu pada Pusgen 2024, segmen Selat Sunda atau Jawa bagian barat berpotensi menghasilkan gempa maksimum M8,9. Guncangannya berpotensi dirasakan di Jakarta dengan intensitas V-VI MMI. Sementara itu, tsunami minor berstatus waspada, kurang dari 0,5 meter, diperkirakan tiba di pesisir utara Jakarta sekitar tiga jam setelah gempa.

Meski Indonesia berada di wilayah rawan gempa, Wijayanto menegaskan belum ada teknologi yang dapat memastikan waktu dan lokasi gempa secara tepat. Masyarakat diminta tetap tenang, waspada, dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Mitigasi yang dapat dilakukan antara lain mempelajari cara menyelamatkan diri, memahami jalur evakuasi, memperkuat bangunan, serta memastikan rambu evakuasi tersedia. Informasi resmi peringatan dini tsunami hanya disampaikan melalui bmkg.go.id, aplikasi infoBMKG, dan akun @infoBMKG.

Source link