Cuaca di Bontang semakin sulit diprediksi. Pagi terasa panas, tapi siang bisa berubah menjadi hujan deras. Suhu bahkan pernah mencapai 34°C. Fenomena cuaca ekstrem ini mengakibatkan berbagai bencana, mulai dari banjir, longsor, hingga karhutla. Kepala BPBD Bontang, Usman, sudah memperkirakan potensi bencana ini sejak awal September. Mereka telah bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari OPD hingga relawan, untuk mengantisipasi dampak buruk cuaca.
Bontang sendiri merupakan daerah rawan bencana, dengan empat ancaman utama: banjir, longsor, karhutla, dan cuaca ekstrem. Selain itu, keberadaan industri di sekitar kota juga menambah kompleksitas dalam penanganan bencana. Selama September, BPBD Bontang mencatat beberapa kejadian bencana, termasuk banjir, karhutla, dan longsor di berbagai lokasi.
Usman mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Beberapa langkah sederhana seperti menyiapkan tas darurat, membersihkan saluran drainase, dan melaporkan tanda bahaya kepada pemerintah dapat membantu mengurangi dampak bencana. Surat imbauan kewaspadaan dini menjadi bagian dari sistem peringatan dini, sehingga diharapkan masyarakat lebih siap menghadapi bencana.
Meskipun cuaca tak bisa diubah, dampak buruknya bisa diminimalisir dengan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Inilah yang menjadi kunci menurut Usman. Terlebih, mengingat cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Jadi, penting bagi masyarakat Bontang untuk tetap waspada dan siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi.





